Right Of Self Determination - Give Back For The PATANIAN Entire Land

Sabtu, November 23, 2013

PATANI: Saudara Yang Terus Berjuang Melawan Kezaliman

“Kabarkan pada dunia, biar mereka tahu.” Kisah Janda Mujahid di Selatan Thailand''


Kemuning senja menemani perjalanan kami, tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) kembali ke Malaysia. Mentari berjalan perlahan ke balik bukit-bukit hijau sepanjang jalan yang mengular entah dimana ujungnya. Patani, Narathiwat, Yala di Negeri Patani (kini Thailand Selatan), tak terasa harus berpisah dengannya. Rintik hujan membelai lembut jalanan di Pattani di penghujung senjanya. Tetesnya membasahi bumi, mengingatkan akan air mata yang menetes pagi tadi.

Butiran bening itu berkumpul pada sudut matanya yang sedang berkaca-kaca. Suaranya seakan berat, tertahan, “..terima kasih..” sambil menghela nafas sembari berusaha menyeka air matanya. Ucapan syukur tiada terkira, berkali-kali ucapan terima kasih itu terlafal. Linangan air mata itu tak dapat disembunyikan, ketika kami, tim JITU mengunjunginya di sudut Patani, Wilayah Narathiwa, Rusok-Jaba. Sekitar satu jam dari wilayah Yala.(baca tulisan: Doa untuk Yala: Laporan Pandangan Mata di daerah konflik, Yala, Thailand)

Hayati, wanita bercadar itu diam sejenak. Kami hanya bisa menghela nafas, mendengarkan kisahnya dengan mata berkaca-kaca. Hayati memang tak sendirian. Di sampingnya ada Syamsiah dan Murni, yang kini senasib dengannya. Beralas tikar, beratap asbes, di dalam rumah sederhana itu,  dinaungi pepohonan lebat, kami mendengar kisah mereka, kisah tentang perjuangan sang suami yang kini tak dapat bersua dengan mereka.

“Alhamdulillah…saya bahagia..suami saya insya Allah mendapatkan apa yang diinginkannya,” lirih Hayati tegar. Tak terasa, air mata ini berkumpul di sudut mata. Masih ingat dalam benaknya, 5 Oktober 2013 silam, ketika tentara rezim  Thailand itu merangsek masuk. Memberedel rumah di kampungnya dengan longsongan peluru. Mulai detik itu, status janda disandang Hayati, Murni, dan Syamsiyah. Kejadian yang sudah berlangsung berabad-abad hingga detik ini.

Abdurrahim, Sofyan, Zulkifli, dan Utsman, memilih jalan yang Allah janjikan balasan terbaik. Lihatlah wajah senyumnya menjemput maut, tak ada yang lebih indah daripada karunia syahid di jalan Allah Ta’ala. Lihatlah, ketika mereka tinggalkan istri mereka dengan suatu yang tak pernah dirasakan orang lain ketika ditinggal keluarga tercinta.

Ketika ketiga istrinya, Hayati (Abdurrahim), Syamsiah (Sofyan), Murni (Zulkifli) begitu tegar dan gembira menyambut syahidnya suami tercinta. Bulir bening itu hanya menetes dalam bahagia dan haru, ketika saudara seiman mereka datang bersua dengan mereka. “Kabarkan pada dunia, biar mereka tahu,” pesannya kepada kami.

Berkali-kali air mata ini terseka. Melihat begitu tegarnya mereka.Tak ada rasa gelisah di sana, ketika sang suami kini telah tiada. Tak ada kesedihan mendalam, hanya lara sesaat, sebagai fitrah wanita yang ditinggal suami. Setelahnya, senyum kembali tersimpul. Dikisahkan dengan tegar kepada kami kejadian yang menimpa suami-suaminya. “insya Allah kami tak menyesal memilih jalan ini,” ungkap Syamsiah.

Syamsiah, wanita berjilbab lebar, sambil memangku sang buah hati, kini tak bisa lagi mengasuh puterinya bersama Sofyan. Wanita 21 tahun itu harus berjuang sendiri mengasuh anaknya yang masih berusia tiga tahun dan 9 bulan. Pun dengan bayi mungil yang baru berusia 6 bulan dalam asuhan Hayati, tak kan bisa menatap ayahnya.

“Ayah ingin berjumpa dengan Allah nak, kini beliau sudah berjumpa,” kata Murni, menjawab tegar ketika anaknya yang berusia 10 tahun dan 7 tahun bertanya,” Ayah kemana umi?”. “Insya Allah mereka sudah paham,” kenang Murni.

Jika sang istri begitu bersyukur atas nikmat syahid (insya Allah) yang akhirnya Allah berikan pada suami mereka, begitupun sang Ayah dalam senyum lembut pun merelekan putra-putranya. “Alhamdulillah..mereka mendapatkan yang mereka inginkan,” kata Umar, ayah Zulkifli.

Matanya berkaca-kaca, dibalik lipatan kulitnya yang sudah tak lagi muda, ada rasa gembira dalam lubuk hatinya. “Perasaan kami senang, semoga perjuangan putra kami dilanjutkan,” ungkap Yaqub, mengenang Sofyan, putranya yang baru berusia 28 tahun sudah menjemput kematian dengan senyuman.

Umar, Yaqub, Murni, Syamsiah, Hayati kini tak dapat menatap lagi wajah lembut orang-orang kesayangannya. Kini, putra-putranya tak dapat memanggil “Abah” lagi. Takkan ada lagi rengekan putra Hayati memanggil kalimat ‘Abah’. Kini, tak ada lagi sosok pejuang di tengah keluarga mereka. “Setiap pagi, insya Allah saya ke kuburan ayah mereka,” ungkap Syamsiah. Mengenang itu mengingatkan. Mungkin, dengan ziarah ke makan ayahnya, mengingatkan bahwa perjuangan ini tak kan berhenti walau ayahnya telah tiada.

“Insya Allah perjuangan ini akan dilanjutkan, hingga keturunan kami,” ungkapnya. “Semoga Patani tidak ada kezaliman, tercipta kedamaian dan kebebasan,” ungkap mereka. Dalam rumah sederhana itu, tak lupa terselip doa bagi umat Islam di Indonesia, dari para keluarga syuhada (insya Allah). “Agar Indonesia semakin berjaya,” bisik mereka.

Terakhir, Toni Syarqi, perwakilan tim JITU dan Road4Peace Indonesia menyampaikan “Kami merasa turut..” ucapnya berhenti sejenak, menghela nafas. Dengan terbata, dilanjutkan harapan kami,”Barangkali kalau melihat makam mereka, kita semua sedih. Tapi di sini, kami melihat harapan, kami masih berharap umat IslamPatani nak berjaya.”

“Kami berterima kasih diterima disini, kami mohon maaf tak membawa apa-apa ke sini, tapi akan membawa pesan (berita) ini ke Indonesia. Kami tak meninggalkan apa-apa kecuali hati kami. Walau fisik kami harus berpisah, tapi hati kami bersama umat Islam Indonesia tetap di sini,” ucapan kami terakhir untuk warga Patani.

Berat memang, meninggalkan saudara kita yang terus berjuang, melawan kezaliman. Patani, bumi Nusantara silam, dimana Islam mempersaudarakan kita di bumi ini. Islam dan bahasa Melayu, ikatan kuat bangsa Melayu. Sejauh mata memandang, dari Merauke hingga Patani. Kini, tanah ini mencari kedamaian. Kuncup Syuhada bermekaran. Hingga suatu saat, bumi Nusantara kembali tersenyum, dalam pangkuan Islam. Ada doa kita yang terselip untuk Muslim Patani. 


(Lesus, Wartawan Alhikmah, tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU) dalam Road4Peace. Senin, 18 November 2013, Patani).*

Sumber dari: An-Najah.net 

Patani atau Pattani?

Right Of Self Determination: “hak anda untuk menentukan nasib sendiri atas wilayah yang kini di duduki asing. Alasan anda benar. Keinginan anda pasti terwujud. Insya Allah’’


PATANI atau Pattani? Dua kata ini sering membingungkan umat Islam untuk menyebut Provinsi muslim di Thailand Selatan itu. Namun, Islampos menemukan jawabannya saat melakukan liputan selama empat hari di sana.

“Sebut kami orang Patani. Karena Pattani adalah bahasa yang disematkan penjajahan Siam,” kata Zakariya aktifis Hak Asasi Manusia (HAM) Patani kepada Islampos.

Zakariya menyebutkan bahwa asal nama Patani berasal dari kata Fathony atau Fathonah yang dalam bahasa Arab berarti Cerdas.

Meski memiliki Provinsi tersendiri di Thailand, namun sebenarnya Patani lebih merujuk kepada tiga wilayah basis muslim (Melayu) di Thailand selatan yakni, Yala, Narathiwat, dan Patani.

“Masyarakat Patani menyebut ketiga Provinsi ini dengan Patani Darussalam,” terang Zakariya.

Dalam penelurusan Islampos, kata Pattani banyak dipakai untuk menyebut Patani dalam bahasa Inggris dan bahasa Thailand.

Menurut pakar Sejarah Melayu dan pengarang buku Sejarah Perjuangan Melayu Patani (1999), Nik Anuar Nik Mahmud, sejarah awal Kerajaan Melayu Patani masih diselimuti kekaburan. Dalam catatan sejarah, belum dapat dipastikan kapan sebenarnya kerajaan Melayu Patani didirikan, meski kerajaan Patani sudah memegang peranan penting di Pelabuhan Semenanjung Melayu pada abad 8 Masehi.

Sejarawan Eropa, kata Nik Anuar, percaya bahwa negeri Langkasuka yang terletak di pantai timur Semenanjung Tanah Melayu antara Senggora (Songkhla) dan Kelantan adalah lokasi asal negeri Patani. 


Lagu: Patani Darussalam

Sumber dari: Islampos.com

Yala Kota Perjuangan Bangsa Melayu Tertindas

Doa untuk Yala, laporan pandangan mata dari daerah konflik Yala, Thailand Selatan

YALA  - “Drr…drr…drr..”  desing Helikopter hilir mudik menggantung di langit Yala, Thailand.  Malam itu, di atas Mesjid Besar Darul Muhajirin, di jantung kota, suaranya berderu kencang. Kelap-kelip merah berputar-putar di atas kota Yala. Entah tak tahu mengapa Helikopter tentara itu terlihat mondar mandir. Tapi memang, Yala, kota yang kami datangi dalam misi perdamaian ‘Road4Peace’ medio November 2013 dikenal sebagai wilayah konflik, sejak wilayah Melayu ini jatuh ke cengkraman Siam, Thailand, akihir abad 18.

Ada duka di sana, ketika kaki harus beranjak dari tanah air, tempat kelahiran. Ada duka di sana, ketika bahasa kebanggaan mereka, Melayu tiba-tiba harus diganti dengan bahasa yang mereka tak mengerti. Ada duka di sana, ketika para pejuang itu tak tinggal diam. Diperjuangkannya rasa keadilan dalam dadanya. Mulai detik itu, perlawanan tak kan berakhir.

Yala, Pattani, Narathiwat, negeri Melayu di sudut Thailand yang selalu berkisah. Kisah tentang kepahlawanan mereka, melawan kezaliman di sana yang terus tergerus waktu. Hingga kini, ia terus berputar. Ketika kami, tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU), masuk ke wilayah Yala, dalam dua jam perjalanan dari Sadao, perbatasan Malaysia dan Thailand, begitu memasuki Yala, maka tentara-tentara Thailand  itu menyambut kami dalam pos-pos jaganya.


Tiga kali, mobil konvoi Road4Peace yang membawa misi keadamaian di Yala dan Pattani melewati kawat duri yang mengular. Tentara-tentara yang melirik ingin tahun siapa saja yang ada di dalam mobil sambil menenteng moncong senjatanya. Di simpang-simpang jalan itu, tentara Thailand bersiaga, mondar-mandir. Yala, ia selalu berkisah. Ketika mobil-mobil itu tak lagi parkir di bahu jalan, tapi malah ditengah, karena bom siap meledak entah kapan di pinggir jalanan, depan ruko-ruko itu.

Yala, ia berkisah tabung beton besar setinggi satu meter penghalang di hadapan tiap ruko di jalanan, sebagai penghalau ledakan. Ketika kawan kami, Fajar Shadiq yang sedang melakukan liputan dipukul dan dikejar orang tak dikenal. Larilah ia ke wilayah umat Islam di Yala, zona Palestina disebutnya. Sedangkan di balik rel kereta sana, tempat perlawanan kezaliman disebut zona Israel.

Kota besar ini, ditinggali majority muslim yang tertindas. Dengarlah penuturan Azman Ahmad dan Majdi Zakariya, pria asli Yala-Pattani yang menuturkan kisahnya yang tanpa sebab dimasukkan ke balik jeruji saat JITU mengunjungi sekolah Islam Terbesar di Yala, Thamabita School, atau Mahad Haji Harun. Dengan bahasa kebanggan mereka, Melayu, curahan hatinya tertutur.

“Saya tiba-tiba ditangkap tanpa tuduhan yang jelas, dengan pasal Undang-Undang Istimewa yang dinamakan Undang Poroko (Bahasa Thaliand-semacam UU Subversif_red),” kata Majdi Zakariya. Pria muda itu baru keluar tahun 2011 menghirup udara segar setelah lima tahun 10 bulan mendekam.

Majdi pun tak tahu, mengapa ia di tangkap. Dengan alasan kepemilikan senjata, ia masuk jeruji besi. Kisah Majdi selalu berulang, hingga kini, ketika JITU berada di Yala. Majdi tak sendiri, Azman Ahmad, pria muda ini dituduh akibat menolong keluarga korban penangkapan.

“Dua tahun saya ditangkap karena menolong keluarga korban yang ditangkap, yang kesulitan.” Katanya. Masih banyak, Azman dan Majdi lainnya yang bertebaran di bumi Nusantara ini. Majdi dan Azman memang lebih beruntung, dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.

Lihatlah, penuturan Abdurrahman, guru Sekolah Haji Harun yang kami temui di Jantung Kota Yala itu. “40 orang guru sekolah ini, ada yang ditembak dalam perjalanan, hilang,” kenangnya. “Bahkan murid-murid pun ada yang pernah ditembak,” lirihnya. Dan hal ini terjadi setiap hari di Yala.

Yala, ialah sebuah kisah tentang perjuangan umat Islam melawan kezaliman. Di balik duka mereka, ada senyum yang tersimpul di sana, senyum perjuangan. Wanita berjilbab yang berjalanan di sudut-sudut kota. Pria dengan sarung bercakap sepanjang jalan. Anak-anak dengan peci yang menanti masa depannya.

Yala, ialah sebuah kisah, tentang perjuangan umat Islam melawan kezaliman. Kumandang adzan magrib dalam gelap Yala menemani tim JITU, merebahkan hati, mengecupkan kening. Berkumpul penduduk muslim Yala dan kami dalam Mesjid Darul Muhajirin di pusat kotanya. Ada senyum di sana, sambutan hangat, ketika kami, dapat bertutur tentang perdamaian.

Ada rasa optimis di sana, ketika kami kisahkan tentang perjuangan umat Islam di Suriah, Mesir, Rohingya, Palestina. “Ketika Syaikh dari Suriah ke Indonesia, mereka bilang tak butuh harta kami, uang kami, kami hanya butuh doa kalian, penduduk Indonesia,” kata M. Pizaro, anggota tim JITU dalam rombongan Road4Peace.

Doa, senjata terkuat umat Islam di seluruh dunia. Kumandang adzan Isya yang menggema di langit Yala, mengakhiri pertemuan kami Ahad malam itu. Adzannya begitu syahdu. Ya Allah…ini adalah bumi-Mu, Negeri-Mu, ketika orang-orang mengecupkan keningnya karena-Mu. Panggilan Ilahi, itu terus menggema di Yala. “Mari menuju kemenangan”. Air mata Yala berganti dengan senyum optimis akan doa saudaranya.

Mari selipkan Yala dalam Doa kita. Dalam sujud-sujud kita. Dalam pinta kita. Dalam tangis kita. Selipkan doa untuk Yala.

Allahummansuril ikhwananal mujahidiina fi Yala, Allahummansuril ikhwananal mustadh’afiina fi Yala. Amiin Ya Mujibassailin


(Rizki Lesus, wartawan Alhikmah, tim Jurnalis Islam Bersatu dalam Road4Peace, Ahad 17 November 2013, Yala. Senin pagi, tim JITU akan bergerak ke Pattani.)

Sumber dari: Arrahmah.com

Selasa, November 05, 2013

Dua Tahanan Diseksa Hingga Tewas

Sekira dua tentera tewas dan empat geriliyawan Patani gugur dalam pertempuran sengit di desa Namdam Kabupaten Thung Yang Deang Provinsi Narathiwat, antara pihak keamanan Thailand dan pasukan pejuang Patani Minggu (06/10).  Menjadi tanda tanya misteruis pada ahli keluarga mangsa yang tewas. Baca lanjut di: http://dangerofpatani.blogspot.com/2013/10/bertempur-dua-tewas-empat-gugur.html, 

Selain itu dalam penyerangan, militer Thailand juga menangkap tujuh orang yang diduga sebagai anggota geriliyawan Patani di Selatan Thailand. 

Menurut ahli keluarga mangsa tahanan yang tewas, pihaknya mengamati kasus kematian tahanan keatas anaknya ini dengan sangat serius. "Kami berkomitmen untuk menelusuri setiap dugaan pelanggaran hukum yang menyebabkan kematiannya... sesuai dengan hukum yang berlaku," tegas ahli keluarganya.

Dinataranya terdapat dua orang tahanan yang tadinya ditemukan tewas di dalam kebun karet berdekatan tempat bertempur. Hasil autopsi menunjukkan bahwa kedua mangsa yang tewas karena dipukuli, dikelar dengan senjata tajam dan di tembak. Pada jasadnya ditemukan luka akibat tindak kekerasan, termasuk salah satunya luka bekas di bagian leher mangsanya.

Penyelidikan kasus kematian kedua ini berawal ketika ahli keluargaknya terang-terangan menuding tentera telah menyiksa anaknya di dalam kebun karet hingga tewas. Dua mangsa tewas ini ditangkap tentera sebelumnya di temukan tewas dalam kasus baku tembak.

Menurut ahli kedua, kedua mangsa ini sebelumnya menyerah diri kepada tentera sewaktu berlaku pertempuran, dan kedua mangsa di bawa ke kebun karet yang berdekatan tempat kejadian untuk soal siasat sehingga didapati ketemunya kedua mangsa tewas.

Patani Freedom Fighters Or Terrorists..?

An open letter to Thai Media
(Translated from a Malay article : Surat terbuka kepada media Thai )

 By: Abu Hafez Al-Hakim

Greetings

The major influence a media has in a society is undeniable. Its role is not just to deliver news and information to the public but also to influence the views or attitude of the society, through reporting and writing. Thus journalists are considered to be agents of change in a society.

In the context of political conflict in the South (Patani) the main-stream Thai media has long been responsible for propagation of news and information . We, the freedom fighters of Patani,  view  the  general opinion and the way  information and news being disseminated  by  Thai media  and  journalists as outdated . In spite of the rapid progress in the field of  information technology nothing much has changed . The  Thai media  HAS NEVER or RARELY  been fair to the Patani freedom movements in its reports. Since 50 years or so until now the situation has not improved.

In the Thai media,  Patani  freedom fighters  are often negatively portrait  as "Southern Villains or Terrorists " . This attitude reflects extreme prejudice and biased reporting. What is the justification to label persons who fight for the rights of their  own people as such, only because they violently oppose Thai suppression ?   If that is the case, King Naresuan and the King Taksin  could also be called terrorists because they also rose up ,using violence, against  the Burmese occupation of Ayutthaya in the past.

When the late Tuan Guru Haji Sulong submitted his infamous 7 petitions in 1953 , not only was he arrested and imprisoned on “revolt” charge , but was also eventually murdered . Against whom did he revolt ?  Was his intention to topple the regime in Bangkok or just simply to  demand rights and justice  for the Malay Muslims in the South?  This unjust  Label  remains  until today and continues  to be propagated by certain media in Thailand , disregarding  the sensitivity of the people of Patani Muslims who revere  him as a great ‘Ulama’( religious scholar).

The freedom fighters groups are  also called "Separatist Movements  ". It is important to stress here that   all   Patani  freedom fighters  groups are  LIBERATION MOVEMENTS, not SEPARATISTS. By   political science   definition   there is a  great  difference between a liberation movement and a separatist movement. All those labels or  terms were   intentionally   created   by the Thai Government to paint negative picture of the fighters. Unfortunately, the Thai media blindly adopted  the  label without profound  consideration nor  objective research  of the fighters' true intention , thus putting them in a disadvantage position in the eyes of Thai general public and world community.

The main principle of journalism states that : "The main task of a journalist is to report the truth and to respect the rights of people to obtain the correct  information." Apparently in the context of Patani reporting , it is not so.  Thai journalists  are  often seen tagging the security forces , or  government personnel to a location for news  coverage. This is sufficient for general public to view them as "government people" and therefore  become uncooperative and denied them vital and accurate information they badly need.   With language  barrier ,  unprofessional attitude and laziness  , they  are easily satisfied with the  "second-hand" information readily provided and “spoon-fed “ by the security forces. Thus many news reports are seen concluding typically in a “stereotype “ manner :  the authorities are still investigating the incident, believed to be carried out  by the Southern terrorists from the area.

Perhaps they have forgotten about this another principle: To seek out and disseminate competing perspectives without being unduly influenced by those who would use their power or position counter to the public interest, that is to find  and present  different views without being influenced by those who  abuse power or office contrary to the interest of people in this area. In carrying out his duties, a journalist believes in freedom to gather information and publish his reports honestly and reserves the right to make fair reviews and criticism.

Thai media also  rarely  provides space and opportunity  for  the  freedom fighters  to voice their  opinion or to communicate with  the general public throughout Thailand, to address  some important issues .  Perhaps they would be thinking : why must they  give space and coverage to villains and terrorists ? Until now the general Thai public  are still wondering : Why are the Malays in the South resisting   the Government?   Why resort to violence ?  Why do they want to secede from Thailand?  Why are there bomb explosions everywhere, involving not only the armed forces but also the public lives and  properties ? Why are teachers being  targeted ? ...and so on.

Another important Principle of Journalism is  “To give voice to the voiceless; document the unseen” . It urges the media to open space and opportunity for those who are oppressed to highlight and make their voice heard. The Thai media is expected to  document  things that are  intentionally “hidden” by the authorities , so that the truth  will be investigated  and exposed . Otherwise the Thai general public will  forever be  denied true information  and the Malay Patani  people ,  particularly  the freedom fighters, will continue to be regarded as villains, rebels  or worse as terrorists, while in reality they struggle to restore their deprived  rights.

The situation is however different with foreign journalists and media. They are very professional, with a proactive approach and produce unbiased reports. They do not expect information to be fed, but  work hard to extract  information  by adopting the "Engaging the community" approach. Though they also face constraints of language and culture like their Thai counterparts, but the professionalism and ethics they strongly adhere to in  journalism, provides them  easy access to information from  reliable and original source  (authentic). The Patani  Malays , especially villagers, are more comfortable with foreign journalists compared to  Thai journalists.

That's why we find news reports  and information  posted  by foreign media are much better and more trustworthy compared to the Thai media.  Sometimes there are great differences of facts and information between both or even contradicting to  those reported in the Thai media. A considerable number of people throughout the world, as well as over 300 millions of Malays of the Nusantara  now have  a better understanding of Patani people's suffering, plight  and their struggle , in comparison to   60 million Thai people who have yet to understand the true nature of the conflict in the South.

Another important issue  in Thai media reporting  is HISTORICAL FACTS. In the context of the history of Patani, beginning  from the era of Langkasuka  Empire to the present day, Thai media are more likely to adhere fanatically  to the historical version that is written by their own people .  The position and relationship of nation-states in the past, particularly the  Patani-Siamese political conflict, is only seen from the Thai historical point of view. This resulted in wrong assumption that Patani and the Northern States of Malaysia (Kelantan, Kedah, Terengganu and Perlis) were  initially owned by Siam. Thai history  claims that some territories that are now part of the neighboring countries such as Laos, Malaysia, Khmer and Myanmar were originally theirs. On the contrary  if we refer to the histories of the countries involved we will find that they also claim that all the mentioned areas were historically theirs but subjected to Thai domination and  expansion during certain periods.

If we study  the records written by foreign historians and travelers who had had contact with Patani in the past  such as the Chinese, the Japanese, the Dutch, the  Portuguese, the English and the Arabs, we will discover detailed records that are very much different to the ones written by the Thais. These facts are often ignored and overlooked by Thai media.

 Thai media has always labeled  the Patani freedom fighter as bandits, villains, separatists, rebels  or terrorists .  Since the Patani Malays did not have proper channels to voice their opinions, the feelings of dissatisfaction remained unheard for years. Ironically, when the Patani freedom fighters call the Thais  “PENJAJAH” (colonialist), they turn surprised and angry  . Then we find the Thai media begin to exploit the issue  in their news reports, adding more  fuel to the fire. They find it hard  to accept the fact that they were  also a " colonial"  power, or conquerer  in the region.  The history of the people in the Malay world of Nusantara has, without doubt, regarded  Siam as one of the  colonialist  along-side with the European powers of the previous centuries.

The  Kuala Lumpur  peace initiative  through  the  General Consensus on Peace Dialogue Process  dated 28 February 2013  gave a new and acceptable recognition to the fighters. They are no longer considered as villains nor terrorists but as "people who have different opinion and ideologies from the (Thai)  State "  Almost all of the world's leading foreign media pay serious attention and are optimistic for the success of  the process towards peace. Some Thai media ,on the other hand, not only  turn a cold shoulder to the peace process, disregarding their own government's effort for a peaceful solution, posing a lot of questions discrediting  the process , they go as far as turning  themselves into a bunch of anti-peace  group, or peace spoilers. If they do not want this conflict be settled by peaceful means, are there any other alternatives ?  Or does the Thai media share the same sentiment  with certain parties who prefer to see the situation as status quo, where unrest and instability rules the day, resulting in countless casualties in lives and properties ? This is similar to the attitude of certain people, the opponent of peace ,who will lose influence and material gains  from certain unlawful dealings in the event of peace. Is that  their hidden agenda ?

 Lately ,we find a small number of Thai journalists and  media start opening  their eyes and make an effort  to seek the truth  to present the general public. They no longer rely on biased " script" dictated  to them by the authorities. They are independent , hard working, doing  research and thorough investigation,  at the same time engaging the community of different language, race and culture. What they get in return is people's trust  who are ready to open their hearts for them, providing whatever information deemed  necessary. For that reason we can now read several different reports from them ,including some video documentaries, about certain important events  such as the "Tak Bai Tragedy" (rewritten) report, the death of   Mat Rosol, the stand-off  involving  Ustaz Rahim or " Black Pele", and  the latest  shooting incidence at Paku, Thung Yang Deng  District .  All those writings create  an alternative perspective and balanced news presentation and narratives for reporting  in the South. Through this the voice and views of the fighters are heard. Unfortunately these journalists are cynically referred to as the "voice" of BRN.

Indeed, there is no other option for Thai media and journalists other than making  a "Paradigm Shift" in their  reporting career , uphold The Universal Principles of Journalism and the Guiding Principles for Journalists, without fear or favour. That is the only way  people's voice will be heard , the truth will prevail ,and justice  will be served.  The Thai media and journalists will be respected for being trustworthy  and reliable , not only by the local community, but the general public throughout Thailand and the world.

With regards.

 Vinegar and Honey - from outside the fence of Patani

 Muharram/November 2013

Sumber dari: http://www.deepsouthwatch.org/jw/node/4913

Rabu, Oktober 30, 2013

Putaran Pembicaraan Damai Akan Melanjut Usai Menyambut Peristiwa Tak Bai


Pemerintah Thailand mengatakan pihaknya siap untuk melanjutkan pembicaraan perdamaian dengan para gerilyawan Melayu di Selatan Thai pada bulan depan.

Paradorn Pattanatabut, Kepala Dewan Keamanan Nasional (NSC), Selasa, menyampaikan pihak Thailand telah mengirimkan sinyal kepada fasilitator Malaysia dan Barisan Revolusi Nasional (BRN), satu kelompok induk gerilyawan selatan yang telah mengadakan tiga putaran pembicaraan damai dengan pihak berwenang Thailand sejak akhir Maret.

Namun, BRN tidak akan kemeja rundingan damai sekiranya pihak delegasi Thailand belum bisa menerima lima tuntutan yang telah disampaikan sebelum ini.

Awal bulan ini, NSC tanpa batas waktu menunda pembicaraan perdamaian babak berikutnya, awalnya dijadwalkan untuk 20 Oktober, mengatakan bahwa pihaknya "tidak siap" untuk melanjutkan negosiasi.

Kepala NSC, yang memimpin delegasi Thailand dalam pembicaraan, mengatakan keputusan itu juga dilakukan untuk menghindari pertemuan dengan BRN sehubungan ulang tahun kesembilan mendatang insiden Tak Bai, di mana sekitar 80 pengunjuk rasa tewas pada 25 Oktober 2004 di kabupaten Tak Bai, Narathiwat.

Dia mengatakan NSC prihatin BRN akan merujuk pembunuhan Tak Bai sebagai alasan untuk memaksakan tuntutan lagi.


Bahwa etnis Melayu mendominasi tiga provinsi perbatasan Selatan - Yala, Pattani, Narathiwat dan empat kabupaten di Songkhla telah diganggu dengan kekerasan oleh aparat pemerintah Thailand sejak awal tahun 2004.

Lebih dari 5.000 orang tewas dan lebih dari 9.000 lainnya terluka.


Selasa, Oktober 29, 2013

3 Anggota Gegana Jinakkan Bom Tewas

Tiga orang anggota pasukan penjinak bom Thailand tewas saat mencoba menjinakkan sebuah bom yang ditanam di sebuah ruas jalan di Thailand selatan, Senin (28/10/2013).

Polis mendeteksi sebuah bahan peledak ditanam di dekat ruas jalan distrik Bacho, Provinsi Narathiwat, kawasan bergejolak di Thailand.

Bom itu meledak saat akan dijinakkan dan menewaskan para anggota penjinak bom itu. Demikian penjelasan seorang perwira polis yang tak ingin disebutkan namanya.

"Mereka adalah anggota penjinak bom berpengalaman yang sudah lama bertugas di Thailand selatan," kata perwira itu.

Dia menambahkan, bom kedua ditemukan di ruas jalan yang sama dan berhasil dijinakkan tanpa menimbulkan korban jiwa.

Para pengamat mengatakan, geriliyawan kini sudah memiliki bom yang canggih dan kuat. Terkadang bahan peledak racikan itu dilengkapi "gotri" untuk memberi efek kehancuran yang makin hebat.

Anggota penjinak bom biasanya adalah yang pertama tiba di lokasi serangan atau begitu sebuah bom meledak. Akibatnya, mereka sangat rentan menjadi korban serangan bom kedua yang biasanya ditanam di dekat lokasi bom pertama.

Sudah hampir satu dekade angkatan senjata gerilyawan Melayu Patani di Selatan negara gajah putih ini memerangi pemerintah kolonial Bangkok Thailand. 

Para pejuang Kemerdekaan Patani memulai kembali tercetus 'Obor Revolusi Bersenjata' di wilayah itu sejak Januari 2004 mengakibatkan lebih dari 5.700 orang tewas.

Thailand Selatan sebelumnya merupakan sebuah Kesultaanan Melayu Patani sampai akhirnya di rebut oleh Kerajaan kolonial Budha Thailand pada tahun 1902.

Kelompak geriliya ini menuntut kemerdekaan untuk kawasan yang secara historis disebut PATANI, yang dianeksasi oleh kerajaan Thailand sekitar seabad yang lalu.


Kamis, Oktober 10, 2013

Pesta Bom 17 Kabupaten di Empat Provinsi Selatan..!!

Pemboman, pembakaran, dan serangan dengan menggunakan senjata api di pedalaman Thailand Selatan, Rabu (9/10), menewaskan dua petugas ranger dalam satu gelombang terbesar dan terkoordinasi yang diduga dilakukan oleh gerilyawan.
Serangan di Narathiwat, Yala, Pattani dan Songkhla tersebut lebih dari 40 serangan dilaporkan di seluruh 17 kabupaten di empat provinsi itu.

Sebelas serangan--enam pemboman, empat pembakaran, dan satu pencurian mobil tangki--dilaporkan di lima kabupaten Narathiwat, kata May. Jend. Pol. Patthanawuth Angkhanawin, Kepala Polis Provinsi Narathiwat.

Di Yala, 11 serangan bom dilaporkan terjadi terhadap mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Kabupaten Muang, Yaha dan Bannang Sta.

Tersangka gerilyawan mencuri satu mobil tangki kosong yang biasanya digunakan untuk mengangkut air dari Kabupaten Rueso di Narathiwat dan diisi dengan bahan bakar.

Mereka menyemprotkan bahan bakar tersebut ke satu bangunan di Kantor Polis Ja Kwa di Kabupaten Raman, Yala.

Polis melihat mereka saat mereka beraksi. Para penyerang melarikan diri sebelum mereka bisa membakar bangunan yang dibasahi bahan bakar itu.

Sebanyak 15 serangan dilaporkan di enam kabupaten Pattani, termasuk 12 pemboman ATM, satu serangan bom, satu pembakaran, dan gabungan serangan bom bensin serta penembakan.

Wakil Perdana Menteri Pracha Promnok, yang bertugas menangani keamanan dalam negeri, mengatakan serangkaian serangan tersebut dimaksudkan sebagai "pamer kekuatan tempur gerilyawan".

Thailand menempatkan sebanyak 60.000 prajurit di bagian selatan negeri itu, tempat hampir satu dasawarsa konflik telah menewaskan lebih dari 5.700 orang.

Senin, Oktober 07, 2013

Bertempur Dua Tewas Empat Gugur


Sekira enam orang termasuk dua orang tentera tewas dan empat geriliyawan Patani gugur dalam pertempuran sengit antara pihak keamanan Thailand dan pasukan pejuang Patani Minggu (06/10).  

Pertempuran mulai memanas saat militer kolonial Thailand dan kepolisian berupaya mencari basis pertahanan anggota geriliyawan, yang terletak di daerah Narathiwat. Daerah tersebut diketahui sebagai wilayah rawan konflik.

“Baku tembak yang terjadi di sini berlangsung dalam waktu yang lama,” jelas Juru Bicara Militer Thailand Selatan Kolonel Pramote Prom-In, seperti dikutip dari Al-Jazeera, Senin (07/10/). 

“Korban tewas termasuk daftar buronan kami,” ditambahkan Prom-In.

Selain itu dalam penyerangan, militer Thailand juga menangkap tujuh orang yang diduga sebagai anggota geriliyawan Patani di Selatan Thailand. 

Konflik yang hampir terjadi satu dekade di selatan Thailand telah menelan korban sebanyak 5.700 jiwa. 

Untuk mencegah adanya pertumpahan darah lanjutan, Pemerintah Thailand usaha melakukan semacam perundingan setengah hati yang diprakarsai oleh Malaysia. 

Sabtu, September 21, 2013

PERMAS Memperingati Hari Perdamaian Internasional


"Satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi konflik di Selatan Thai perlu mengadakan jajak pendapat pemungutan suara. Karena “Referendum" atau pemungutan suara dapat memuncul keinginan murni dari rakyat Melayu Patani mengenai nasib dan masa depan mereka”

Hari ini (21/9) sejak resolusi Majelis Umum PBB pada 1981 tiap 21 September, Hari Perdamaian Internasional dirayakan di beberpa negara.

Di Thailand, Persatuan Mahasiswa Selatan (PERMAS) di beberapa buah University di Thailand menggelar aksi untuk memperingati Hari Perdamaian Internasional.

Selain itu, mahasiswa menggelar orasi yang mengecam pemerintahan Bangkok yang dianggap tidak peka dalam menciptakan perdamaian di Thailand Selatan.

Para mahasiswa mengikuti pawai memperingati Hari Perdamaian Internasional ini menjadi momentum untuk mengajak dan menyebarkan semangat kedamaian, ketenangan, dan keharmonisan seluruh masyarakat agar gejolak intoleransi konflik di PATANI, Selatan Thailand yang sering terjadi belakangan ini dapat berkurang.

Pada perhimpuanan ini terdapat kain spanduk utama menampilkan dengan tulisan ''Right To Self Determination Of Patani People''.

Menurut para Mahasiswa PERMAS bahwa harapan rakyat Patani adalah menghendaki perdamaian dan rakyat punya hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Satu-satunya demi untuk mencari kedamaian di Selatan. 

Satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi konflik yang berkepanjangan di Patani adalah dengan mengadakan jajak pendapat atau pemungutan suara. “Referendum" atau pemungutan suara harus dilakukan, karena pemungutan suara akan memunculkan keinginan murni dari rakyat Melayu Patani mengenai nasib dan masa depan mereka” jelasnya.




















''We Want Peace'' Dapat lihat Clip di: 
http://www.youtube.com/watch?v=5K5__8O81vI
http://www.youtube.com/watch?v=zWyDLFIdGNQ
http://www.youtube.com/watch?v=9EGJVrJQGgA

Sabtu, September 14, 2013

Sepuluh Aparat Kolonial Thailand Tewas

Kolonel polis Wasant Phuangnoi mengatakan sekitar delapan tersangka geriliyawan menembaki empat tentara kolonial Thailand sebuah jalan di desa Kolong Mai daerah Yarang, provinsi Pattani, Thailand, dari dalam truk pick-up, menyebab tiga tentera tewas, Kamis (12/9).

Wasant mengatakan kelompok bersenjata tersebut menyita tiga laras senapan M-16 dari tentara tersebut dan melarikan diri dari tempat itu.




Insiden tersebut terjadi satu hari setelah lima polis tewas dalam serangan serupa di provinsi tetangganya, daerah Thung Yang Deang, Pattani.





Lima petugas polis Thailand tewas pada Rabu 11/09, setelah kendaraan yang mereka tumpangi diserang geriliyawan pembebasan etnis Melayu, di PATANI, Selatan Thailand. Selai membunuh polis para geriliyawan juga menrampas lima senjata yang digunakan petugas.

Sementara, berlaku dua bom meledak di sebuah sekolah di kawasan ibu kota provinsi Yala, Selasa 10/09, menewaskan dua tentara dan melukai sedikit ringan seorang siswa.

Pihak berwenang mengatakan bom pertama diledakkan untuk mengundang tentara datang dan setelah itu baru bom kedua meledak.

"Bom diletakkan di bawah bangku di depan pos penjagaan di dalam sekolah," tutur salah seorang juru bicara militer, Kolonel Pramote Promin.

Dia menuding geriliyawan yang menamakan diri Barisan Revolusi Nasional, BRN, yang mengatur serangan di provinsi Selatan ini.


"Itu pekerjaan BRN yang memiliki obsesi atas serangan," tambahnya.




Lebih dari lima ribu orang telah tewas di tiga provinsi selatan yang majority etnis Melayu sejak pecahnya 'Obor Revolusi' angkatan bersenjata memperjuangkan pembebasan Melayu Patani dari cekaman pemerintah kolonial Siam-Thailand pada tahun 2004.

Perjuangan Pembebasan diri umat Melayu Patani di perbatasan Selatan yang berpenduduk majority etnis Melayu yang dianeksasi kerajaan kolonial Budha Thailand pada 1902 telah ada sejak beberapa dekade.

Hatta, Pemerintah Thailand telah memasuki proses perdamaian dengan kelompok pejuang Barisan Revolusi Nasional (BRN) tahun ini.

Tapi pertumpahan darah selama gencatan senjata selama bulan suci Ramadhan tidak banyak berbuat untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam pembicaraan yang telah macet dalam beberapa pekan terakhir.
Lihat, http://dangerofpatani.blogspot.com/2013/07/gencatan-senjata-ramadhon-berdarah.html,

Pemerintah Thailand mengatakan pihaknya sedang mengkaji tuntutan yang disampaikan secara tertulis oleh BRN dan pembicaraan akan dilanjutkan bulan depan. Lihat, http://dangerofpatani.blogspot.com/2013/05/putaran-kedua-brn-daftar-lima-poin.html,

Sabtu, Agustus 31, 2013

Akademisi Prince of Songkla University Kunjungi Gampong Darussalam


Sejumlah akademisi dari Fakultas Pendidikan Prince of Songkla University, Thailand Selatan, mengunjungi Gampong Cot Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Kamis, 29 Agustus 2013.  Mereka adalah Prof. Dr. Ekkarin Sungtong, Prof. Dr. Kanita Nitjarunkul dan Sanan Pengmuan.


Kedatangan para akademisi bergelar doktor tersebut dalam rangka peninjauan kerja sama antara Prince of Sonkla University dan sejumlah komunitas di Thailand Selatan dengan Aceh di bidang penanganan korban konflik.

Di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) gampong setempat, mereka mengadakan pertemuan dengan sejumlah ibu-ibu mantan pasukan Inoeng Balee GAM dan korban konflik. Pertemuan difasilitasi oleh Cut Fatma Dahlia, dari LSM Reusam.

“Kami banyak mendengar tentang konflik dan damai di Aceh. Kami datang ke sini untuk melihat lebih dekat,” kata Profesor Ekkarin, saat menyampaikan kedatangan mereka ke Desa Cot.
 
Menurut Profesor. Ekkarin, di tempat asalnya, saat ini konflik masih berkecamuk. Di lokasi-lokasi tertentu keadaanya sama seperti Aceh di waktu masa konflik, setiap hari ada saja orang yang meninggal.

“Di tempat kami, saat ini ada sebuah organisasi yang memikirkan masalah korban konflik,” kata Profesor Ekkarin. 

Di temuan pertemuan itu, masyarakat Gampong Cot menyuguhi tamu dari Thailand tersebut kelapa muda dan aneka penganan khas Aceh. Masyarakat juga memperlihat sejumlah kerajinan tangan khas Aceh hasil produksi masyarakat Gampong Cot. 


Kamis, Agustus 08, 2013

Kerajaan Thailand Pengkhianat, BRN Hentikan Rundingan Damai

Pemerintah Thailand dituduh melakukan pengkhianatan, kekerasan, kebohongan dan memfitnah orang-orang Bangsa Melayu Patani.

Pejuang Barisan Revolusi Nasional di Selatan Thailand yang berpenduduk majority etnis Melayu mengancam akan menghentikan perundingan perdamaian dengan pemerintah karena pertumpahan darah tetap terjadi selama gencatan senjata Ramadhan.

Dalam video yang diposting di situs YouTube, tiga unit Tentera BRN mengenakan kerudung dan perlengkapan tempur serta memegang senjata otomatis mengatakan Barisan Revolusi Nasional (BRN), salah satu dari gerakan pejuang kemerdekaan Patani, akan menarik diri dari perundingan.

"Para penjajah Thailand telah melakukan pengkhianatan, kekerasan, kebohongan dan memfitnah orang-orang Pattani," kata salah satu dari mereka dalam video yang diposting pada Selasa (06/08) lalu dan telah dikonfirmasi kebenarannya oleh sumber yang dekat dengan para perundingan pada Kamis ini.

Lihat Clip di: http://www.youtube.com/watch?v=8JE9NiawBL8, 
Patani merupakan salah satu dari beberapa provinsi di selatan, dimana 5.700 orang telah tewas sejak tercetus obor revolusi kemerdekaan Patani pada tahun 2004.

Pengkhianat kerajaan Thailand ini memang sangat disayangkan di tengah upaya pembicaraan di Malaysia antara pemerintah Thailand dan beberapa gerakan pejuang, termasuk BRN itu, yang nyata-nyata telah membangkitkan harapan pada perdamaian.

Sebuah gencatan senjata, seharusnya berlangsung dari 10 Juli - 18 Agustus, untuk menandai bulan suci umat Islam. Sayangnya, serangan militer bayangan kerajaan Thailand mulai lagi setelah beberapa hari dan pengamat lokal mencatat sebanyak 29 orang tewas selama Ramadan yang berakhir Rabu kemarin.

Dalam video itu, Tentera BRN mengatakan pemerintah Thailand telah gagal memenuhi kondisi dari negosiasi.

Bahwa fakta video ini menunjukkan tanda-tanda kekuatan internal dari tubuh BRN, dengan melalui Majlis Syura.

Ini menambahkan bahwa video itu merupakan upaya baru dari BRN untuk menekan Thailand agar memenuhi lima tuntutan kunci BRN yang mencakup bahwa Malaysia akan diberi peran mediator, bukan fasilitator, dalam pembicaraan perdamaian dan anggota lain Perhimpunan Bangsa Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) serta Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus terlibat dalam proses perdamaian. Pelepasan semua tahanan dan mengakui bahwa mereka melakukan suatu gerakan pembebasan.


Rabu, Juli 24, 2013

Wartawan JITU Dipukul Polis Preman di Thailand Selatan

Selasa siang (23/7), Anggota Tim Media Forum Indonesia Peduli Syam sekaligus Anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU), Fajar Shadiq, mengalami tindak kekerasan di Provinsi Yala, Thailand Selatan. 

Kejadian ini berlangsung saat Fajar mendokumentasikan suasana di Stasiun Yala. Saat itu kereta sedang menurunkan penumpang. Tiba-tiba dari belakang tengkuk jurnalis An-najah.net itu dipukul oleh beberapa orang tidak dikenal. Belakangan diketahui, pelaku adalah preman bayaran. Bahkan relawan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) menilai pelaku bukanlah preman seperti umumnya, sebab mereka sudah mengenakan senjata api.

Berikut kronologi yang disampaikan Fajar Shadiq, kepada Islampos.com, Selasa sore (23/7).

3 Relawan Indonesia dan 2 Jurnalis JITU Ikuti Road For Peace 3 Negara. Baca lengap di:
http://kiblat.net/2013/07/12/3-relawan-indonesia-dan-2-jurnalis-jitu-ikuti-road-for-peace-3-negara/,

Selasa (23/7/2013) pagi sekitar jam 10 waktu setempat Tim Media berencana mengambil gambar di wilayah perbatasan yang biasa disebut “Israel” (kawasan campuran) dan kawasan “Palestina”–di sini ada lokasi perbelanjaan seperti pasar. Di wilayah “Palestina” kita tak ada masalah, semua bebas mengambil gambar dan footage video.

Tak berapa lama kami menyeberang ke wilayah “Israel”. Sama, di situ juga ada pasar, tapi yang yang berdagang kebanyakan China dan Buddhist. Kami mengambil beberapa gambar menarik. Di antaranya toko emas yang di depannya dipagar batu untuk membentengi  toko dari ledakan bom.

Di situ salah seorang pemilik toko yang saya ambil fotonya keberatan dan minta dihapus… oke saya hapus satu gambar, tapi beberapa gambar lainnya tidak saya hapus, hanya pura-pura mencet tombol mode, jadi layar gelap, seolah-olah gambarnya hilang. Akhirnya dia puas, lalu pergi meninggalkan saya.

Kemudian, kami ke rel kereta. Saya bertiga dengan Faris Noor (Videografer Malaysia) dan Abd Shomad (relawan HASI) mendatangi pos polisi untuk minta izin mengambil gambar. Rupanya ia bisa bahasa Melayu. Kami sempat mengobrol sebentar. Tak lama ada kereta datang. Jarak dari perlintasan kereta ke stasiun Yala sekitar 200 m.

Saya dan Faris berinisiatif mengabil momen kedatangan kereta. Spontan ia (Faris) mengambil ke arah kanan gerbong dan saya ke kiri gerbong.

Beberapa kali jepretan, saya melihat ada yang menarik di belakang gerbong tatkala kuli angkat barang sedang menurunkan muatan, saat itulah saya semakin ke dalam ke arah stasiun… Tiba-tiba ada seorang lelaki yang melarang saya mengambil gambar dan memotret di situ, berteriak dengan bahasa Siam. Ia bersikeras merebut kamera saya. Kami sempat tarik menarik selama beberapa saat. Dia menarik paksa lensa canon 1100-D saya, maka saya pun menekan tombol lensa agar kamera tak rusak. Setelah ia berhasil dapatkan lensa, datang satu pria lagi berteriak ke arah saya. Tanpa ba bi bu lagi bogem mentah dihantamkannya ke kepala saya dua kali.

Kontan, setelah itu, saya lari sekuat tenaga menyelamatkan diri, setengah berlari saya menoleh ke belakang, orang itu rupanya tak mengejar. Eh, tapi tak berapa lama kemudian kereta melaju dan dari seberang jalan seorang pemuda berlari kencang mengejar saya. Melihat gelagat buruk, saya pun memaksa diri memacu kaki sekuat tenaga.

Yang saya pikirkan adalah, saya harus menuju kawasan Muslim secepat-cepatnya. Sandal saya tinggalkan agar langkah tak terhambat. Sempat sesekali terjerembab di tengah kerikil-kerikil sepanjang rel. Qadarullah, mobil kami diparkir tak jauh dari perlintasan kereta. Saya langsung masuk ke dalam mobil dan merunduk di kursi tengah. Pak Mustofa Mansur, Ketua Ekspedisi, langsung beralih duduk ke kursi kemudi.

Tak berapa lama, tampak beberapa orang yang mengejar saya, tapi mereka tak tahu saya ada di dalam mobil. Mereka lewati mobil kami begitu saja. Menurut Pak Mustofa, mereka yang mengejar saya membawa senjata. Dengan tenang Pak Mustofa mengemudikan mobil ke arah penginapan yang jaraknya sekitar 500 meter dari TKP.

Sampai saat itu saya tidak tahu di mana posisi Abd Shomad dan Faris Noor. Alhamdulillah, berkat pertolongan Allah, saya tak mengalami hal buruk yang akan dilakukan oleh orang-orang Siam itu lebih lanjut. Dan, alhamdulillah, setelah itu saya mengetahui, Faris Noor dan Abd Shomad, mereka juga selamat.



Sumber dari: http://www.islampos.com